Advertisement

Artikel

Beasiswa yang Meresahkan

Redaksi Pelajar NU Banjarnegara
30 September, 2020, 14.28 WAT
Last Updated 2021-03-02T07:30:43Z
Advertisement

 


Sejak dulu saya bukan pembicara yang handal. Mengobrol dengan kedua orang tua pun saya jarang mencari topik sendiri. Ketika nongkrong sama temen-temen saya juga memilih mengikuti obrolan mereka daripada mencari topik lain sekalipun saya tidak tertarik dengan itu. Mungkin saya bukan orang kreatif dan supel. Tapi sebenarnya saya hanya ketakutan.

 

Entah sejak kapan saya jadi memiliki rasa takut yang besar. Sekedar izin keluar main ke bapak ibu juga takut. Saya takut salah. Jika saya benar-salah orang tua saya akan marah-marah dengan meninggikan nada sampai oktaf tertinggi. Itu sangat mengerikan sehingga saya memilih lari dari pembahasan penting.

 

Beberapa waktu lalu ada sahabat saya memberi kabar tentang beasiswa di kampusnya.

"Mbak,di kampus ada beasiswa siapa tau minat" begitu pesannya melalui whatsapp.

 

Apa yang harus saya lakukan?

Beberapa menit saya diskusi dengan diri sendiri membahas tentang pesan sahabat saya itu. Sekejap perasaan saya campur aduk.

 

Saya senang karena mendapat harapan baru, tapi saya gelisah dan takut tidak diizinkan bapak ibu. Saya uring-uringan seperti diputus pacar. (Flashback masa pacaran)

 

Sudah 4 tahun saya lulus SMK dan selama itu juga saya tidak pernah menyentuh dunia formal. Keinginan kuliah sejak tahun kelulusan 2016 sudah ada,tapi saya menyadari kasta keluarga yang memang tidak bisa membiayai saya. Terlebih lagi relasi saya sangat minim waktu itu.

 

Tahun 2018 saya mencoba lagi beasiswa kesehatan di Yogyakarta. Setelah lulus tes masuk, ternyata uang saya tidak cukup dan pihak kampus tidak bisa diajak negosiasi. Pupuslah harapan itu sampai kabar dari sahabat saya.

 

Beasiswa adalah do'a saya dibeberapa waktu. Di umur 23 ini saya sama sekali tidak pernah masuk kuliah. Tapi beasiswa yang saya kejar ada pelatihan-pelatihan singkat di kota besar.

 

Boommm…..

 

Sepertinya sahabat saya ingin mempengaruhi hidup saya. Kabar tersebut memang membawa angin segar yang tidak terduga. Ditengah kegelisahan,saya langsung menyiapkan berkas-berkas pendaftaran.

 

Besok adalah hari terakhir pendaftarannya. Sekarang saya sedang menulis ini masih dengan perasaan saya sebelumnya. Perasaan ini menjadi sangat kuat mengingat saya belum meminta izin ke bapak ibu. Berkali-kali saya ingin bicara, tapi lidah saya kelu.

 

Bapak ibu sangat menginginkan saya menikah secepatnya, tapi saya merasa belum menemukan tambatan hati yang pas. Hal ini yang membuat saya takut ditolak. Saya takut pilihan saya menyakiti mereka.

 

Saat ini saya benar-benar bingung harus bagaimana. Saya menghubungi sahabat jauh saya. Sebut saja Budha Kreshna. Beliau menasehati, "Kuliah kan gak harus single. Kamu malah bisa bikin kesepakatan sama mereka to. Mau nikah asal boleh kuliah. Kirim al fatihah bapak ibu-mu."

 

Saya sangat senang mendapat nasehat menenangkan tersebut.

 

Bersama ketenangan setelah mengirim ummul kitab khusus bapak ibu, saya memberanikan diri untuk menceritakan rencana tentang beasiswa itu dengan harap-harap cemas. Hasilnya ambigu. Tidak ada obrolan atau pembahasan lain setelah saya bercerita.

 

Saya semakin frustasi. Tanpa hilang akal, saya langsung membuka polling di instastory tentang pilihan harus ambil beasiswa tanpa restu orang tua atau tidak.

 

Nihil. Dari 20 penonton hanya ada 2 pemilih Ya dan 2 orang pemilih Tidak. Maklum, saya bukan artis instagram yang memiliki banyak follower.  Akhirnya saya putuskan sendiri dengan beribu do'a baik yang saya harap bisa terkabul.

 

Hari ini adalah hari terakhir. Saya resmi menjadi mahasiswi baru di umur ke-23 berkat beasiswa yang ditawarkan sahabat saya ketika teman-teman seangkatan SMK sudah pamer toga.

 

Biodata =》

●     Nama : Kunti Khusaeni

●     Domisili : Kebumen

●     No. Wa : 085664101793

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung dan membaca postingan ini, silahkan tinggalkan komentar.
Jangan lupa share ya :)

TrendingMore