Advertisement
Sejak dulu saya bukan pembicara yang handal. Mengobrol dengan kedua orang tua pun saya jarang mencari topik sendiri. Ketika nongkrong sama temen-temen saya juga memilih mengikuti obrolan mereka daripada mencari topik lain sekalipun saya tidak tertarik dengan itu. Mungkin saya bukan orang kreatif dan supel. Tapi sebenarnya saya hanya ketakutan.
Entah
sejak kapan saya jadi memiliki rasa takut yang besar. Sekedar izin keluar main
ke bapak ibu juga takut. Saya takut salah. Jika saya benar-salah orang tua saya
akan marah-marah dengan meninggikan nada sampai oktaf tertinggi. Itu sangat
mengerikan sehingga saya memilih lari dari pembahasan penting.
Beberapa
waktu lalu ada sahabat saya memberi kabar tentang beasiswa di kampusnya.
"Mbak,di
kampus ada beasiswa siapa tau minat" begitu pesannya melalui whatsapp.
Apa
yang harus saya lakukan?
Beberapa
menit saya diskusi dengan diri sendiri membahas tentang pesan sahabat saya itu.
Sekejap perasaan saya campur aduk.
Saya
senang karena mendapat harapan baru, tapi saya gelisah dan takut tidak
diizinkan bapak ibu. Saya uring-uringan seperti diputus pacar. (Flashback masa pacaran)
Sudah
4 tahun saya lulus SMK dan selama itu juga saya tidak pernah menyentuh dunia
formal. Keinginan kuliah sejak tahun kelulusan 2016 sudah ada,tapi saya
menyadari kasta keluarga yang memang tidak bisa membiayai saya. Terlebih lagi
relasi saya sangat minim waktu itu.
Tahun
2018 saya mencoba lagi beasiswa kesehatan di Yogyakarta. Setelah lulus tes
masuk, ternyata uang saya tidak cukup dan pihak kampus tidak bisa diajak
negosiasi. Pupuslah harapan itu sampai kabar dari sahabat saya.
Beasiswa
adalah do'a saya dibeberapa waktu. Di umur 23 ini saya sama sekali tidak pernah
masuk kuliah. Tapi beasiswa yang saya kejar ada pelatihan-pelatihan singkat di kota
besar.
Boommm…..
Sepertinya
sahabat saya ingin mempengaruhi hidup saya. Kabar tersebut memang membawa angin
segar yang tidak terduga. Ditengah kegelisahan,saya langsung menyiapkan
berkas-berkas pendaftaran.
Besok
adalah hari terakhir pendaftarannya. Sekarang saya sedang menulis ini masih
dengan perasaan saya sebelumnya. Perasaan ini menjadi sangat kuat mengingat
saya belum meminta izin ke bapak ibu. Berkali-kali saya ingin bicara, tapi
lidah saya kelu.
Bapak
ibu sangat menginginkan saya menikah secepatnya, tapi saya merasa belum
menemukan tambatan hati yang pas. Hal ini yang membuat saya takut ditolak. Saya
takut pilihan saya menyakiti mereka.
Saat
ini saya benar-benar bingung harus bagaimana. Saya menghubungi sahabat jauh
saya. Sebut saja Budha Kreshna. Beliau menasehati, "Kuliah kan gak harus
single. Kamu malah bisa bikin kesepakatan sama mereka to. Mau nikah asal boleh
kuliah. Kirim al fatihah bapak ibu-mu."
Saya
sangat senang mendapat nasehat menenangkan tersebut.
Bersama
ketenangan setelah mengirim ummul kitab khusus bapak ibu, saya memberanikan
diri untuk menceritakan rencana tentang beasiswa itu dengan harap-harap cemas.
Hasilnya ambigu. Tidak ada obrolan atau pembahasan lain setelah saya bercerita.
Saya
semakin frustasi. Tanpa hilang akal, saya langsung membuka polling di
instastory tentang pilihan harus ambil beasiswa tanpa restu orang tua atau
tidak.
Nihil.
Dari 20 penonton hanya ada 2 pemilih Ya dan 2 orang pemilih Tidak. Maklum, saya
bukan artis instagram yang memiliki banyak follower. Akhirnya saya putuskan sendiri dengan beribu
do'a baik yang saya harap bisa terkabul.
Hari
ini adalah hari terakhir. Saya resmi menjadi mahasiswi baru di umur ke-23
berkat beasiswa yang ditawarkan sahabat saya ketika teman-teman seangkatan SMK
sudah pamer toga.
Biodata
=》
●
Nama : Kunti Khusaeni
●
Domisili : Kebumen
●
No. Wa : 085664101793

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah berkunjung dan membaca postingan ini, silahkan tinggalkan komentar.
Jangan lupa share ya :)