Advertisement
Singgih Hamdani ma'ruf, Pelajarnu-bara.or.id- Kali ini saya sedikit tergelitik setelah berselancar di media
sosial, tentunya setelah stalking postingan mantan dan menghitung banyaknya
mention obat peninggi badan yang ada di timeline sosial media saya. Hal itu
adalah fenomena gaptek, Hmm.. gagap teknologi yang saya maksud bukan gagap dan
kemampuan konsumsi teknologi yang rendah, justru yang saya maksud adalah
konsumsi teknologi tinggi namun pengetahuan dan budaya sosial media buruk.
Bahkan diantara kita sebagai orang NU ataupun para aktivisnya
seringkali terjebak di etika sosial media yang salah, atau sosial media merubah
pola pikir dan doktrin kita kea rah yang salah. Hal ini saya simpulkan dari
beberapa ketidaksengajaan yang ada dalam sosial media dan penelusuran yang
disengaja. Bahkan saya menemukan beberapa kader NU disetiap post dan
follower-nya berisi ustad-ustad yang notabenya bukan ahlisunnah waljamaah
annahdliyah.
Sosial media membuat kita lebih jauh menjelajah dan memberi segala
macam akses informasi sesuai dengan keinginan, namun akses informasi yang mudah
ini juga ternyata belum mampu diterima dengan efektif dan selektif oleh kita. Dan
lucunya kader NU yang sudah di bai’at dan diberikan pendidikan kader-pun masih
mudah digoyahkan oleh ustad-ustad model panitia surga.
Topik yang dijual-pun beraneka ragam, mulai ditingkat pelajar yang biasanya
dijual kepada barisan sakit hati akibat ke-baperan extra yang dimonopoli oleh pendakwah jadi-jadian yang memanfaatkan
kelabilan, untuk ranah ini kebanyakan topiknya adalah cinta-cintaan. Sedangkan
di ranah selanjutnya adalah menjual idealisme dan semangat menggebu-gebu tentunya
ini sangat laku diranah mahasiswa apalagi yang diracuni bumbu-bumbu timur
tengah. Adapula bapak dan ibu komplek kelas bawah yang ditanya keadilan negri
tanpa paham dalil hadis yang disertakan yang solusinya hanya satu yaitu
khilafah.
Kader NU harus mampu berbenah diri, fenomena gaptek ini juga
menjerat kader Nahdlatul Ulama bukan orang yang layak dikata awam. Kita besar
dalam nama dan jumlah sebagaimana populasi NU yang dikutip dalam buku “NU DAN
KEINDONESIAAN” karya Mohamad Sobary, ketua PBNU Periode 1999-2004 Almaghfurllah
KH. Hasyim Muzadi pernah menyatakan jumlah warga NU sekitar 60 Juta. Namun
Gusdur menaksir lebih dari 50% orang Indonesia adalah warga NU atau sekitar 120
Juta.
Namun dari kebesaran warga NU atau berapapun jumlah yang sebenarnya
kita masih tertinggal jauh di dunia maya, Padahal banyak kyai NU yang bisa di
jumpai di sosial media seperti KH. Mustofa Bisri, Gus Nadirsyahhhossen, Gus Baha,
Gus Muwafiq, KH. Said Aqil Siraj dan masih banyak lagi. Oleh karenanya warga NU
bukan hanya sekedar mampu berceramah namun juga harus mampu untuk paham
teknologi dan budayanya, bayangkan ketika semua warga NU mau untuk share, like
dan mengikuti akun-akun NU maka NU akan mampu menguasai jagat dunia maya. (Red'/Singgih) Editor: Redaksi


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah berkunjung dan membaca postingan ini, silahkan tinggalkan komentar.
Jangan lupa share ya :)