Advertisement
Di era globalisasi sekarang ini, Perkembangan Teknologi tentang
informasi semakin pesat sehingga memudahkan orang untuk mendapatkan berbagai
ilmu pengetahuan baik ilmu agama maupun ilmu umum, Media informasi baik berupa
cetak maupun elektronik sangat sarat dengan informasi, berita actual, hiburan
dan lain sebagainya yang mengandung makna positif dan negative dengan tujuan
membentuk opini public yang dapat mempengaruhi, atau bahkan mengubah pola pikir
sikap dan perilaku seseorang.
Jadi siapa yang menguasai media massa, dialah
yang bisa menjadi pengendali dan penguasa dunia. Jalan pikiran dan sikap warga
dunia bisa dikendalikan melalui pembentukan opini public. Seperti yang kita
ketahui saat ini, arus informasi dunia dikuasai dan dikendalikan oleh orang
yang tidak sefaham dengan ajaran Ahlusunnah Wal Jamaah.
Banyak dari kalangan muda, banyak
yang memilih belajar agama melalui media elektronik khususnya internet tanpa
terlebih dahulu belajar dengan ahlinya (guru) secara langsung, hal tersebut
dapat menjerumuskan orang bila tidak dengan bijaksana mencerna dan mengolah
informasi atau ilmu yang didapatkan. Imam Asy’ari mengatakan “ orang yang
belajar ilmu agama tanpa sanad guru bagaikan orang yang mengumpulkan kayu bakar
digelapnya malam, ia membawa pengikat kayu bakar yang terdapat pada ular
berbisa dan ia tak tahu.”(faidhul Qadis juz 1 hal 433).
Belajar agama tanpa sanad ilmu yang
jelas, akan membahayakn bahkan menyesatkan karena kebanyakan memahami dengan
sudut pandang sendiri, sebab lafad Alqur’an bisa berupa metafora, mengandung
makna ganda, dan sifatnya global. Isnad sendiri dimulai dari Allah SWT di
turunkan melalui malaikat terus ke nabi, tabiin, tabiut kemudian ulama sampai
sekarang.
Jadi ketika untuk pembelajaran ilmu syar’i maka itu sangat dianjurkan
sebab hukum yang dipakai akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat
beserta sanad - sanadnya.Hadsrotusyaikh
Hasyim Asyari dalam kitab adabul ‘alim wal muta’alim menjelaskan salah satu
adab seorang pelajar adalah jangan sekali – kali mengambil ilmu dari buku tanpa
guru.
Sebab lembaran kertas tidak bisa membimbing, sementara guru akan
membimbing jika bacaan pelajar yang keliru. Sepintar apapun dan seluas apapun
pengetahuan seseorang bila tidak memiliki sanad guru, maka dalam islam
keilmuannya tidak sah.(Singgih/)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah berkunjung dan membaca postingan ini, silahkan tinggalkan komentar.
Jangan lupa share ya :)